Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 25 Oktober 2015

Ketika Kesehatan Lingkungan Berada di Tangan Para "Bu Boss"

    Bibit jarak di depan rumah kami. Jarak termasuk salah satu tanaman obat. Dulu kami biasa memakainya sebagai obat kembung dan penurun panas ketika anak-anak masih bayi. Biji jarak terkenal beracun, jadi pastikan untuk memberitahu anak-anak kita tentang bahayanya. 
"Kok mau-maunya repot sendiri." Itulah penilaianku terhadap kegiatan Bu Boss alias Nyonya (karena dia selalu memanggilku "Pak Boss/Mr Boss) sehari-hari.
         Setiap kali masak, hati-hati sekali dia memilah sampahnya. Sampah plastik tipis-tipis masuk keranjang sampah, potongan kangkung, wortel, seledri, bawang pre, bayam, semua masuk pot, dijejal-jejalkan dimana ada ruang kosong di dalamnya. 
          Maka kalau ada murid yang ingin melihat penanaman metode tumpang sari, lihatlah kebun kecil di rumah kami. Satu pot kecil berisi kemuning, kangkung, seledri. Ada pot isi cabe dan (lagi-lagi) kangkung di sekitarnya. Meriah pokoknya.
       Belum lagi air sisa mencuci. Air bekas cucian beras, cucian sayur, cucian daging dan ikan ditampung dalam timba tersendiri, sorenya dipakai buat menyirami bunga dan sayuran hasil karyanya itu. Lumayan buat pupuk, asal nggak sampai bikin bau.
       Sampah sisa kulit sayuran, kupasan bawang merah dan bawang putih, kulit semangka (dicacah dulu), sisa kupasan mangga masuk kantong beras yang sudah diberi dekomposer buat dijadikan kompos. Kotak bungkus kosmetik, kertas bungkus belanjaan sayur ditumpuk dalam 1 wadah, jadi satu dengan kertas sisa anak-anak belajar.  
        Kardus bungkus indomie, aqua dan sejenisnya yang biasa kami pakai buat mengirim laptop juga dimasukkan ke wadah tersendiri. Kemudian botol minuman, gelas air kemasan, botol bekas shampoo, sabun mandi dan sebagainya juga ditempatkan terpisah. Setelah kupikir-pikir, rumahku jadi seperti sarang pemulung.
        Sampah-sampah non organik itu nantinya masuk ke bank sampah RT, yang buka setiap minggu. Kalau dipikir secara materi sebenarnya jujur saja kurang worthy. Berapa sih yang didapat dari penjualan sampah itu? Berapa kilo kompos yang sanggup diproduksi tiap bukannya? Toh hampir tiap minggu masih minta dianter ke keputih buat beli tanah?
        "Kalau sekarang nggak worthy lah, cabe sama tomat sama terong juga nggak worthy kalau dihitung secara rupiah. Tapi apa susahnya sih melempar tomat busuk, cabe busuk, biji jeruk nipis ke pot?" Jawabnya ketika kuprotes.
        "Potnya ya nggak gratis, kita kemarin beli tanah habis berapa coba? Ini sudah minta lagi." Godaku. Istri memang dituntut taat pada suami, tapi kalau pas lagi ngeyel gitu ternyata bisa jadi hiburan tersendiri.
         "Pot aku dah minta polibag ke Bu RT, sama karung beras + kantong minyak goreng! Anggap aja istri punya hoby positif, dari pada nonton sinetron."
          Jadi ketika para aktifis lingkungan menggelar acara di taman-taman kota, dengan memanfaatkan sampah buat aksesorisnya, yang pada akhirnya tetap saja berserakan mengotori taman kota, para Bu Boss kita tak banyak bicara. Dalam skala kecil, di rumah sendiri, di lingkuangan RT sendiri mereka teliti merawat lingkungan sendiri. 
          Seringkali kulihat dia bawa tanaman ini itu, padahal pamitnya pergi belanja. Ternyata sekalian minta tanaman pada tetangga. Tapi tampaknya ibu-ibu di kampung kami juga saling bekerja sama, karena gilirannya membawa sayuran dari desa, dia juga menawarkan pada semua tetangga.
          Well.......selamat bekerja ibu-ibu. Semoga kita termasuk orang-orang yang ikut memakmurkan Bumi Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About